Indonesian
Friday 20th of October 2017
code: 82252
Imam Husain dan Syahadahnya

Oleh: Abdullah Yusuf Ali

Prakata. Yang akan saudara baca pada lembar berikutnya ini adalah ceramah yang saya sampaikan di London, pada sebuah majelis asyura, kamis 28 Mei 1931 (10 muharram 1350 H). bertempat di Hotel Waldorf, London pada majelis asyura waktu itu hadir Mr.A.S.M. Anik. Nawab sir umar hayat khan, tiwana, dan saudara-saudara dari bebagai kelompok di dalam islam. Begitu pula para tamu dari lintas agama. Semua berkumpul untuk memberikan penghormatan pada syahid agung islam. A Yusuf Ali) Bulan Muharram, Bukan pertama dalam penanggalan Hijriah, mengingatkan kita pada pengorbanan Imam Husain bin Ali as, cucunda Rasulullah saw dan keluarga beliau yang suci serta para sahabat yang setia. Ceramah dan teks singkat ini menunjukkan penghormatan yang besar dari penulisnya terhadap imam Husain as. Penulis memaparkan secara singkat tragedi karbala, sebab terjadinya dan akibat setalahnya. Pesan ini beliau sampaikan dengan harapan terwujudnya ukhuwah islamiyyah dan persaudaraan di antara sesama manusia.

Penulisnya tak lain adalah penerjemah dan penafsir Al-Quran ke dalam bahasa inggris yang terkenal, Abdullah Yusuf Ali (tafsir beliau dijadikan standar tafsir Al-Quran yang diterbitkan oleh kerajaan Saudi Arabia-red). Beliau wafat di London pada tahun 1952. Mungkin tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa tafsir dan terjemahan Al-Qurannya mendapatkan tempat yang luas dikalangan para pembaca bebahasa inggris. Mungkin tidak pernah terpikirkan juga olehnya, bahwa puluhan tahun setelah wafatnya. Terjemahan dan tafsiran Al-Quran “diedit” dan diubah oleh sebagian orang, sehingga rujukan tentang signifikansi peristiwa asyura dan Imam Husain yang beliau tulis dalam tafsirnya (cetakan pertama dan hingga beliau wafat) dihapus dan dihilangkan dari aslinya.

Mungkin ada sebagian orang yang ingin kenangan terhadap asyura dan Imam Husain dihapus dari ingatan. Barangkli karbala belum sepenuhnya berakhir…

Derita sebagai perekat persatuan. Sore ini saya akan bicara tentang perkara yang luhur, syahadah Imam Husain di Karbala. Inilah peristiwa yang kita peringati hari terjadinya. Sebagaimana Tuan Ketua (Mr. A.S.M. Anik) sampaikan, tragedi Karbala adalah peristiwa dahsyat sejarah yang disepakati oleh semua kelompok. Lebih dari itu, di ruangan ini, saya dapat kehormatan untuk menyampaikan kisah ini kepada saudara-saudara yang mungkin baru pertama kali mendengarnya, yang berasal dari latar belakang keagamaan yang berbeda dengan saya. Saya yakin bahwa mengetahui sejarah ini juga akan meninggalkan bekas teramat dalam bagi mereka, baik ditinjau dari perspektif historis, moral, dan spiritual. Sungguh, sekiranya kita melihat latar belakang tragedi ini dan apa yang terjadi 1300 tahun setelahnya, kita pasti diyakinkan bahwa kejadian tragis dan penderitaan serta ‘kekalahan yang menaklukkan’ sebenarnya adalah satu hal yang mempertemukan nilai-nilai kemanusiaan di antara kita.

Ketika kita mengundang seorang tamu ke rumah dan keluarga kita, kita memberikan sebagian besar hati kita pada mereka. Peristiwa yang akan saya terangkan merujuk pada tragedi yang paling menyentuh dan mengenaskan dalam sejarah kaum Muslimin, apalagi jika ditinjau dari dimensi spiritualnya. Kami berharap agar saudara-saudara se-Iman berbagi bersama tentang makna peristiwa ini. Sesuatu yang tak terbantahkan bahwa siapa pun yang mempelajari sejarah pasti terhenyak dengan dahsyatnya tragedi ini. Mereka akan sepakat bahwa musibah Karbala telah mempersatukan beberapa hal yang telah terpisahkan sejak masa-masa pertama sejarah Islam. Saudara tahu pepatah Persia tentang kedatangan Rasulullah Saw:

Tu baraye wasl kardan amadi; nah baraye fashl kardan amadi

Kau datang ke dunia untuk mempersatukan…bukan menceraiberaikan.

Mempersatukan kaum Muslimin kala itu memerlukan penderitaan, musibah, dan pada puncaknya, syahadah Imam Husain.

Mengenang Nilai-nilai Luhur. Ada kecenderungan dalam sejarah kita untuk memperingati kejadian ini dengan meratap dan menangis. Terkadang dengan simbol-simbol seperti Ta`ziyah di India atau Tabut di beberapa tempat lainnya. Simbolisme dan panji-panji tertentu kadang-kadang bermanfaat dalam ruang lingkup tertentu untuk mengkristalkan ide-ide. Tapi saya kira kaum Muslimin sekarang ini jauh lebih siap untuk mengambil cara-cara lain untuk mengenang syahadah dan mengambil nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Dengan berusaha memahami latar belakang kejadian, dan memetik pelajaran darinya, menerjemahkan itu semua dalam relevansi kehidupannya sehari-hari. Dari sudut ini, saya kira kita semua sepakat, bahwa kita mesti duduk bersama—bahkan dengan saudara yang berbeda latar belakang keimanan—untuk menelusuri sejarah dan berbagi serta mempelajari nilai-nilai luhur seperti keimanan yang tak tergoyahkan, keberanian yang tak terkalahkan, perhatian pada orang lain, kesediaan berkurban, teguh dalam mempertahankan kebenaran, dan tegas dalam melawan kebatilan.

Islam memiliki sejarah yang kaya tentang penderitaan yang dialaminya dan hubungannya dengan signifikansi spiritual yang agung . Tak ada yang semisalnya di dunia ini. Hanya saja—meskipun bagi saya sejarah Islam sangat bernilai—hal-hal itu sering terabaikan. Karena itu, adalah penting kita memberikan prioritas untuk itu, memperhatikannya dengan lebih serius. Sekiranya ada “permata” dalam sejarah Islam (tentu saja banyak), maka yang berharga itu bukanlah peperangan, atau perseteruan politik, atau penaklukkan dan perluasan wilayah kekuasaan, atau bahkan kekeliruan peradaban dan pemikiran yang dilahirkan oleh para moyang kita. Sejarah kita Kaum Muslimin, sebagaimana sejarah lainnya, punya sisi terang dan gelap. Yang kita perlukan adalah untuk semangat untuk menekankan persaudaraan, untuk belajar dari keberanian yang tak terkalahkan dalam aspek moral dan spiritual hidup kita.

Garis Besar Pembicaraan. Pertama, saya akan bicara tentang latar geografis dan sejarah. Kemudian secara ringkas menjelaskan peristiwa yang terjadi di bulan Muharram ini, dan akhirnya memohon perhatian Saudara terhadap pelajaran penuh hikmah yang kita petik darinya.

Gambaran Situasi Geografis. Untuk mempersembahkan ke hadapan saudara-saudara seting geografis peristiwa besar ini, saya merasa beruntung karena punya pengalaman pribadi ke tempat-tempat itu. Kenangannya begitu jelas. Saya mengunjungi tempat-tempat itu pada tahun 1928. Saya ingat menelusuri Kota Baghdad dan aliran yang diairi oleh Sungai Furat. Ketika menjelajah sungai itu dengan sampan-sampan bermesin dari Jembatan Al-Musaiyib, di pagi hari musim semi April, pikiran saya mengelana melompat berabad waktu dan masa. Di sebelah kiri arus sungai yang utama, kita akan temukan daratan kuno Babilonia, saksi terhadap satu di antara peradaban tertua umat manusia. Semuanya diselimuti debu, sehingga kita baru menyadari besarnya peradaban itu belum lama ini. Kemudian ada arus utama sungai Furat. Sungai yang tidak seperti sungai-sungai lainnya yang kita ketahui. Sumbernya dari banyak tempat di pegunungan sebelah timur Armenia, berkelok-kelok melintasi daerah bebukitan yang berbatu, sehingga “terdampar” dan mendarat di tanah tandus ini. Ke mana pun air ini mengalir, ia mengubah daratan tandus itu menjadi hamparan padang hijau. Di sebelah timur ia mengembara ke padang pasir Syria dan sampai di bebukitan yang lembut. Tidak jauh dari Karbala sendiri ada oase-oase kecil yang berfungsi sebagai penampungan air. Turun terus ke bawah akhirnya ia bertemu dengan sungai lainnya, Tigris, dan kedua sungai itu bersatu membentuk arus yang dikenal dengan Syatt al-‘Arab, hingga berlabuh di Teluk Persia.

Limpahan air dan tragedi kehausan. Sejak zaman dahulu, bagian rendah Sungai Furat ini dikenal sebagai perkebunan dan tanaman. Inilah buaian peradaban. Tempat pertemuan bangsa Sumeria dan Arabia, dan kemudian bangsa Arabia dan Persia. Ini daerah yang kaya, yang diberkati curahan air yang melimpah. Pepohonan kurma dan buah delima tumbuh subur. Tanahnya yang makmur dapat menghidupi kota-kota yang padat dipenuhi penduduknya. Bentuknya padang pasirnya mengundang para nomaden Arabia untuk singgah berlama-lama. Adalah sangat memprihatinkan bahwa di perbatasan daerah yang amat subur seperti itu, terjadi tragedi ketika orang-orang terbaik umat ini terbunuh kehausan, dibantai, dipaksa bertekuk lutut dan dianiaya karena tidak mau tunduk pada kekuatan kezaliman. Mengutip penyair Inggris, “Water, water everywhere and not a drop to drink” Air di mana-mana dan tak setetes pun untuk diminum, adalah tepat untuk menggambarkan air yang melimpah dan tanah yang kekeringan.

Karbala dan Kubah Agungnya. Saya masih ingat hati ini bergetar ketika mendekat ke arah Karbala dari timur. Cahaya pagi keemasan memantul dari Gumbaz-i Faiz, Kubah agung yang menutupi pusara suci Imam Husain. Karbala sebetulnya adalah tempat persinggahan para kafilah dalam perjalanan mereka menembus padang pasir. Kini, kota yang hidup dari aliran sungai itu, Kufah yang pernah menjadi pusat pemerintahan, hanya tinggal desa kecil saja. Dan kota Najaf mengambil alih kemasyhurannya karena pusara Hazrat Ali, meskipun tidak berkembang menjadi kota komersial. Adapun Karbala, palang pintu padang pasir ini, adalah tempat pertemuan situs-situs kudus (sacred place) itu. Karbala adalah ‘bandar pelabuhan’ untuk sebuah padang pasir. Sebagaimana Basra, sedikit ke arah Selatan, adalah bandar pelabuhan untuk Teluk Persia. Yang masih tetap terpelihara indah hingga kini adalah jalan setapak menuju pusara, tempat di mana para peziarah dari seluruh dunia akan memadatinya sepanjang tahun. Batu bata yang dengan indah diukir, berkilauan dengan ornamen yang menghiasinya. Di dalam pusara, di langit-langit dan tembok-tembok atasnya, mosaik kaca memenuhi setiap sudut. Sepertinya mosaik itu menangkap dan merefleksikan kembali cahaya. Hasilnya adalah cahaya yang berkilauan, saling memantul ke sana kemari. Indah. Pusara Imam sendiri berada lebih dalam dari itu, seperti gua dari atas tanah. Apa yang ditampilkan adalah bagian teratas dari tanah itu, di mana sang Syahid Agung itu tersungkur. Kota Najaf berjarak 40 mil jauhnya ke Selatan, dengan pusara Hazrat Ali di tanah tingginya. Saudara dapat melihat kubah kuning keemasan itu dari bermil-mil jauhnya. Hanya sekitar empat mil dari Najaf, dihubungkan oleh jalur tram (tahun itu ada konstruksi jalan-jalan tram oleh Pemerintahan Kolonial seperti Inggris dsb—Red), adalah Kufah yang sudah ditelantarkan. Masjid Kufah itu sangat besar, tetapi hampir tidak pernah digunakan. Kubah biru dan mihrabnya dilapis oleh keramik dan porselen yang menggambarkan kebesarannya di masa lalu.

Kota-kota itu dan Makna Budayanya. Bangunan-bangunan di Kufah dan Basrah, dua pos terdepan Kekaisaran Muslimin waktu itu, pada tahun 61 Hijriah adalah simbol dari kekuatan Islam yang terus mendesak maju untuk membangun sebuah peradaban, tidak dalam desakan militeristik, tapi dengan mengedepankan gagasan-gagasan moral dan sosial, baik dalam ilmu pengetahuan maupun seni dan budaya. Kota-kota tua tidak mampu menampung limpahan gagasan yang berhamburan dari para penduduknya. Tidak juga mereka waktu itu merasa puas dan cukup atas pencapaiannya. Ia selalu mencoba, menguji, mencampakkan, dan memodifikasi hasil pekerjaan dan karyanya. Selalu saja ada kelompok yang ingin untuk mempertahankan kebiasaan lama itu. Seperti di Damaskus misalnya. Tetapi jiwa-jiwa yang bergairah itu senantiasa menarik batas kemampuan mereka lebih dan lebih lagi. Baik dari karya maupun perluasan wilayah geografis. Mereka merasa generasi tua seperti kayu mati yang membiakkan belatung dan membahayakan strata kehidupan yang lebih tinggi. Benturan di antara situasi seperti ini adalah bagian dari tragedi Karbala. Di balik kemegahan kota-kota baru, tumbuh juga gagasan-gagasan baru. Mari kita telaah lebih jauh. Akan terpancar mata air tersembunyi dari hal-hal yang menarik dalam sejarah.

Kemalangan Makkah dan Madinah. Dua kota besar sejak awal Islam adalah Makkah dan Madinah. Makkah, pusat dari ziarah berabad-abad di Arabia, tempat lahir Rasulullah Saw. Penduduk Makkah menolak dakwah Nabi dan mengusirnya. Tradisi penyembahan berhalanya sudah usang. Sistim kabilahnya tak lagi kuat, dan ganasnya perlawanan terhadap Guru Cahaya Baru ini pun sudah memudar. Nabi Saw membersihkan debu dari kakinya, dan hijrah ke Madinah. Adalah kota Yatsrib yang subur yang menerima ajarannya dengan hati yang terbuka. Yatsrib adalah kota dengan jumlah penduduk Yahudi yang cukup banyak waktu itu. Kota ini memberikan perlindungan pada Sang Nabi dan para sahabatnya. Nabi mereformasi kota itu dan memberinya nama baru: Madinah al-Munawwarah, kota Cahaya. Makkah, dengan sembahan kuno dan takhayul lamanya berusaha untuk menghancurkan cahaya baru itu. Taruhan waktu itu lebih menguntungkan para punggawa Makkah dibandingkan kelompok kecil di Madinah. Tapi Tuhan mengangkat derajat cahaya itu dan membuatnya menaklukkan Makkah. Sang Nabi datang untuk membangun, sekaligus juga untuk menghancurkan. Nabi hancurkan berhala-berhala, dan cahaya baru tegak di Makkah. Lentera yang akan menjadi mercu suar yang mempersatukan bangsa Arab, bahkan persaudaraan manusia. Ketika kehidupan sang Nabi di dunia ini berakhir, semangatnya terus abadi. Ia menggerakkan pengikutnya, meraih satu kemenangan menuju kemenangan yang lainnya. Ketika kemenangan spiritual berpadu dengan kemenangan material, ruh kemanusiaan membumbung tinggi ke arah kesempurnaan. Tetapi jika ada kemenangan material, dan hampa dari kemenangan spiritual, atau bahkan menjatuhkan yang spiritual—atau juga sebaliknya—pada saat seperti itulah tragedi terjadi.

Suasana Damaskus. Ekspansi Islam yang pertama adalah ke arah Syria, di mana kekuasaan dipusatkan di Damaskus. Dari kota-kota yang sekarang ini ada di dunia, barangkali Damaskus adalah kota yang paling tua. Bazarnya dipenuhi oleh orang dari berbagai bangsa. Kekayaan semua penjuru tampak tersaji di depan mata. Tetapi, jika kita bergerak ke arah barat daya, menyusuri gurun-gurun Syria, kita akan menemukan situasi yang sangat kontras. Dari tebing pasir yang membakar sampai di mata air dan perkebunan. Dari bangsa Arab yang polos, kekar, mandiri dan bersahabat, hingga orang Syria yang lembut, mewah, canggih, dan kompleks. Situasi kontras seperti itu dipaksakan di saat Damaskus menjadi Kota Muslim. Atmosfir moral dan spiritual yang berbeda bertabrakan. Sebagian cenderung pada ambisi, kekayaan, kekuasaan, kebanggaan ras dan sebagainya. Sedangkan Islam senantiasa berdiri sebagai kampiun dari nilai-nilai moral universal yang luhur. Islam menentang kemapanan dan ketidakadilan seperti kontras yang terjadi itu. Tetapi para wakil Islam yang datang di Damaskus justru takluk oleh kemegahan itu, terbawa kecenderungan duniawi dan ambisi. Mereka memilih untuk jatuh pada kehinaan sebagai pangeran dunia, daripada berjuang untuk menjadi pemimpin dari sebuah maktab pemikiran Ilahiyyah. Tidak ada aturan pasti yang mengikat, dan para gubernur berubah menjadi lebih berkuasa dibanding Khalifah. Sesuatu yang lebih pahit terjadi setelah itu…

Jerat dan Godaan Kekayaan. Sementara itu, Persia perlahan memasuki peredaran orbit Kaum Muslimin. Ketika Madain ditaklukkan dan pecah Perang Jalulah pada tahun 16 H yang membongkar baris pertahanan Kekaisaran Persia, limpahan kekayaan hasil rampasan perang dibawa kembali ke Madinah: permata, mutiara, intan, rubi, dan pedang-pedang yang disebuh dalam perak dan emas. Perayaan besar diselenggarakan. Di tengah gemuruh gegap gempita, Khalifah waktu itu justru menangis. Seseorang bertanya kepadanya, “Woi! Ini waktunya bergembira, dan engkau malah menangis?” Khalifah menjawab, “Ya, aku melihat bahwa kekayaan itu akan menjerat kalian, gelimang harta dunia akan menyuburkan iri hati, dan akhirnya akan membawa kecelekaan bagi rakyatku.” Karena sesungguhnya, bangsa Arab lebih menghormati kesederhanaan hidup, keterbukaan kepribadian, dan keberanian menghadapi bahaya dan ketakutan…jauh di atas segalanya. Mereka bukanlah makhluk yang terkurung untuk kenikmatan inderawi. Lihatlah bagaimana mereka bertarung hingga ke Teluk Persia. Ketika para lelakinya terdesak mundur, para perempuan kaum Muslimin akan siap bertempur. Mereka ubah jilbab mereka menjadi panji yang berkibar. Musuh menganggapnya sebagai bantuan tambahan, sehingga mereka meninggalkan medan perang. Para perempuan itu telah mengubah kekalahan menjadi kemenangan.

Basrah dan Kufah: Perencanaan Kota. Di Mesopotamia, kaum Muslimin tidak mendasarkan kekuatan mereka di atas puing-puing atau sisa-sisa kota Persia lama. Tapi mereka membentuk demarkasi baru. Pos pertama yang mereka dirikan adalah Basrah, di pinggiran Teluk Persia, pada tahun 17 H. Dan betapa Basrah menjadi kota yang sangat megah! Bukan kemegahan dalam peperangan dan penaklukan, bukan dalam perniagaan dan perdagangan, tapi dalam budaya dan kultur pembelajaran. Yang terbaik pada zamannya! Tapi situasi Basrah dan iklimnya tak sepenuhnya cocok dengan Bangsa Arab. Terlau rendah, dan lembab. Pada tahun yang sama, orang-orang Arab itu membagun kota yang kedua, tidak jauh dari teluk, tetapi cocok untuk menjadi bandar besar di tengah-tengah gurun itu. Sebagaimana yang terjadi pada Karbala berpuluh tahun kemudian. Itulah Kufah. Dibangun di tahun yang sama dengan Basrah, tapi di tempat dengan iklim yang lebih cocok untuk orang-orang Arab. Kedua kota itu adalah eksperimen pertama Kaum Muslimin dalam membuat dan menata kota. Di pusat kota ada masjid utama. Di sekitarnya ada selasar yang teduh dan rindang. Tidak jauh dari itu, sebuah medan untuk pusat keramaian, pasar kota. Jalan-jalannya dibuat bersingginggungan, dan besarnya sama rata dipastikan: lebar 60 kaki untuk jalur utama, 30 kaki untuk jalan kedua, dan bahkan jalan setapak sebesar 10.5 kaki (sekitar 3m) untuk para pejalan kaki. Kufah menjadi pusat ilmu dan cahaya. Khalifah Hazrat Ali tinggal dan syahid di sini. Tetapi kota rivalnya, Damaskus, dibalut oleh kemewahan dan kebesaran peninggalan Kekaisaran Byzantium. Gemerlap yang ditawarkan kota itu menggoyahkan dasar kesetiaan dan ketaatan pada nilai-nilai luhur itu. Racunnya dengan cepat menyebar ke negeri-negeri kaum Muslimin. Para gubernur ingin menjadi raja. Egoisme, sinisme, pemberhalaan nafsu tumbuh dengan cepat, dan suara-suara para pengingat kebenaran dibungkam dan dilecehkan. Makkah, yang masih menjadi pusat simbol ruhaniah, ditelantarkan dan diabaikan. Damaskus dan Syria menjadi pusat kecintaan pada dunia, pusat kesombongan, yang dengan sendirinya telah menghancurkan sendi-sendi fundamental ajaran Islam.

Imam Husain Menolak untuk Tunduk pada Kekuasaan dan Keduniawian. Sekarang kita berada pada tahun 60H. Yazid merengkuh kekuasaan di Damaskus. Ia tidak pernah mempedulikan gagasan-gagasan luhur yang dikembangkan oleh Kaum Muslimin. Ia juga bahkan tidak tertarik dengan urusan administratif sehari-hari. Hobinya berburu. Dan ia senang memuja dirinya dalam kekuasaan. Disiplin diri, melawan hawa nafsu, iman yang kuat, istiqamah, kemerdekaan, kesetaraan sosial yang menjadi sumber kekuatan Islam, dipisahkan jauh-jauh dari kekuasaan. Tahta Damaskus telah berubah menjadi tahta dunia yang didasarkan pada kepentingan pribadi dan golongan, alih-alih sebagai rujukan ruhaniah atau kekuasaan yang memiliki amanah tanggung jawab ilahiah. Penyakit moral seperti itu dengan cepat menjalar di tengah-tengah Kaum Muslimin. Hanya ada satu orang yang menentang arus besar itu. Imam Husain. Dialah, cucu Rasulullah Saw, yang berbicara tanpa rasa takut, karena ketakutan adalah sesuatu yang asing bagi jatidirinya. Hidupnya yang tanpa cela telah mendatangkan ketakutan pada orang-orang yang hidup dengan gelimang dunia itu. Mereka berusaha membungkam Imam Husain, tapi Imam tak dapat dibungkam. Mereka berupaya membujuknya dengan harta, tapi ia tak dapat dirayu. Mereka bahkan mencoba menawarkan pada Imam posisi penting di Pemerintahan. Lebih dari itu semua, mereka ingin agar Imam mengakui tirani dan mendukungnya secara terbuka. Karena mereka tahu Umat bisa tersadar kapan saja. Mereka akan tergusur, kecuali bila ada orang dengan kesucian yang tak lagi terbantahkan, yang mendukung mereka terang-terangan. Tapi orang suci ini lebih memilih untuk mati daripada harus menyerah, mengalah, dan mencampakkan prinsip yang selama ini ia junjung tinggi.

Diusir dari kota ke kota. Madinah adalah pusat dakwah Imam Husain. Karena itu, orang-orang picik itu membuat suasana Madinah menyulitkan bagi Imam Husain. Imam meninggalkan Madina dan berangkat ke Makkah, berharap ia tidak lagi diganggu. Tapi gangguan itu tak berhenti. Tentara-tentara Syam (Syria, Damaskus) menyerbu Makkah. Tapi serbuan itu ditaklukkan. Tidak oleh Imam Husain, karena ia tak punya balatentara. Keberadaan Imam Husain sendiri adalah senjata teramat menyakitkan bagi musuh-musuhnya. Hidupnya senantiasa dalam bahaya, begitu pula kehidupan orang-orang di sekitarnya. Imam punya teman di semua tempat, tapi tak ada seorang pun yang berani berbicara untuknya. Mereka tentu saja tidak punya keberanian seperti Al-Husain. Namun, di tempat yang jauh di Kufah, justru tumbuh sebuah gerakan, anti kemapanan. Mereka berteriak: “Kami muak dengan kemunafikan ini. Kita harus datangkan Al-Husain dan memberinya perlindungan.” Maka mereka mengirim surat dan mengundang Imam untuk meninggalkan Makkah, agar datang bergabung bersama mereka di Kufah. Agar Imam berkenan menjadi guru mereka, pembimbing dan pemimpin mereka. Mereka mengingatkan Imam akan kenagnan tentang ayahandanya di Kufah. Gubernur Kufah waktu itu adalah orang yang bersahabat, dan orang-orang Kufah pun menyambut Al-Husain dengan penuh semangat. Tapi sungguh disesalkan, penduduk Kufah adalah kaum yang tak punya kekuatan, keberanian, atau keteguhan. Kufah terletak 40 mil dari Karbala. Kota itu sekarang hancur…kemegahannya nyaris hilang. Karbala yang justru tegak berdiri sebagai monumen Kesyahidan.

Undangan Penduduk Kufah. Ketika undangan penduduk Kufah itu sampai ke tangan Imam, ia merenung dan mempertimbangkan berbagai kemungkinannya. Imam juga berunding dengan sahabat-sahabatnya. Imam mengirim saudara sepupunya, Muslim bin ‘Aqil untuk mempelajari situasi yang terjadi di lapangan dan melaporkannya kembali. Berita yang dikabarkan Muslim mengisyaratkan kebaikan, dan Imam memutuskan untuk berangkat. Ia sadar betul bahaya yang menyelimutinya. Banyak kawannya di Makkah memintanya untuk tidak pergi. Tapi, mampukah ia mengabaikan tugasnya di saat Kufah memintanya? Apakah ia orang yang menghindar dari marabahaya? Yang berusaha mencari selamat dari beragam reka perdaya? Orang-orang menyarankan agar Imam meninggalkan keluarganya di Makkah. Tapi keluarga dan kerabat terdekatnya pun tak ingin meninggalkan Imam seorang diri. Inilah keluarga yang satu, yang dipersatukan, yang tiada bandingannya dalam menjalani penderitaan dalam seluruh sejarah kita. Sekiranya ada bahaya yang menanti, mereka siap menjalaninya bersama. Mereka tahu Imam tidak berangkat untuk disambut gegap gempita. Mereka tahu ada keajiban yang harus ditunaikan, dan bahwa tugas mereka adalah untuk berada di samping Imam, mendukungnya dalam setiap keadaan. Kritikus rendahan mengasumsikan ambisi politik Imam dalam hal ini. Tapi apakah seorang yang punya ambisi kepentingan politik seperti itu akan berjalan tanpa pasukan untuk mendukungnya? Berjalan ke arah pasukan musuh yang penuh dengan sumber daya militer, politik, dan uang yang melimpah di balik mereka.

Perjalanan Membelah Sahara. Imam Husain meninggalkan Makkah menuju Kufah bersama seluruh keluarganya, termasuk anak-anak yang masih kecil. Kabar yang sampai dari Kufah setelah itu tidak mengenakan. Gubernur yang bersahabat itu telah diganti oleh seorang gubernur yang diperintahkan untuk menjalankan taktik dan rencana Yazid. Seorang gubernur yang terkenal kejam. Kalau Al-Husain memang ingin berangkat ke Kufah, dia harus mempercepat perjalanannya, karena orang-orang Kufah berada dalam bayang-bayang kekejaman gubernur baru. Al-Husain harus menyelamatkan mereka. Di sisi lain, kembali ke Makkah pun bukan pilihan. Makkah pun tidak sepenuhnya tempat yang aman baginya dan keluarganya. Waktu itu, bertepatan dengan Bulan September pada penanggalan Syamsiyyah. Tak seorang pun akan menempuh perjalanan membelah sahara dalam panas udara seterik itu, kecuali karena mengemban sebuah misi. Dalam penanggalan Hijriah, waktunya bertepatan dengan musim haji. Tapi Imam tidak menetap di Makkah (untuk menyelesaikan hajinya-Red). Imam terus berangkat. Bersama keluarga, kerabat, dan sahabat. Semuanya sekitar 90 sampai 100 orang, laki-laki, perempuan, anak muda dan orang tua. Keadaan memaksa mereka untuk menembus padang pasir gersang itu. Mereka menempuh jarak 900 mil dalam waktu kurang dari tiga minggu. Ketika jarak antara mereka dan Kufah tinggal beberapa mil lagi, di ujung sahara, mereka bertemu dengan beberapa orang penduduk Kufah. Waktu itulah mereka mendengar kabar terbunuhnya Muslim bin ‘Aqil, saudara sepupu Al-Husain, dengan cara yang keji. Seorang penyair menyarankan Imam untuk kembali. Katanya, “hati orang-orang kota cenderung kepadamu, tapi pedang-pedang mereka bersama musuh-musuhmu.” Lalu apa yang harus dilakukan? Jarak mereka tiga minggu lamanya dari kota tempat mereka berangkat. Ke kota tempat mereka menuju, utusan mereka telah dibunuh mengenaskan, begitu pula putranya. Mereka tidak tahu situasi sesungguhnya yang sedang berlangsung di Kufah. Tapi mereka bertekad untuk tidak meninggalkan dan mengabaikan penduduk Kufah (yang memerlukan bantuan mereka-red).

Seruan untuk Menyerah atau Mati. Akhirnya, pasukan utusan dikirimkan dari Kufah, meminta Imam untuk menyerah. Imam Husain menjawab dengan menawarkan untuk mengambil satu dari tiga kemungkinan. Ia tidak menginginkan kekuasaan tidak juga mencari pembalasan dendam. Imam berkata, “Aku datang untuk melindungi kaumku. Sekiranya aku terlambat untuk melindungi mereka, berikan padaku pilihan dari yang tiga ini: kembali ke Makkah; atau terus bergerak ke arah Yazid di Damaskus; atau sekiranya keberadaanku tidak mengenakkan baginya dan bagimu, aku tidak ingin menyebabkan Kaum Muslimin semakin bingung dan jatuh dalam perpecahan. Biarkan aku berjalan ke perbatasan yang jauh. Di mana, sekiranya ditentukan ada peperangan, aku akan bertempur melawan musuh-musuh Islam.” Satu di antara tiga pilihan itu ditolak oleh pasukan-pasukan musuh. Yang mereka inginkan adalah untuk menghancurkan hidupnya, atau lebih baik lagi, untuk membuatnya menyerahkan diri: menyerah pada kekuatan yang dengan lantang diprotesnya; untuk mendeklarasikan ketaklukkannya pada kekuatan yang menentang hukum Tuhan dan manusia; atau untuk menerima segala pelecehan yang telah menjatuhkan kehormatan Islam dan Kaum Muslimin. Tentu saja ia tidak akan melakukan semua itu. Ia tidak akan pernah menyerah. Lalu apa yang harus ia lakukan? Ia tak punya pasukan. Mungkin saja ada sahabat-sahabatnya dari negeri yang jauh akan membantunya. Tapi waktu sangat krusial waktu itu, dan Imam kemudian bergerak berpaling sedikit ke arah kiri, ke jalan yang akan membawanya berhadapan dengan Yazid, ke arah Damaskus. Hingga kemudian ia mendirikan tenda di padang Karbala.

Tertahan dari Air; Pengabdian dan Kesatriaan. Selama sepuluh hari pesan demi pesan datang silih berganti antara Kufah dan Karbala. Kufah meminta Imam untuk menyerah. Imam tidak akan melakukannya. Semua kemungkinan lain diabaikan oleh (Gubernur) Kufah, berdasarkan komando dan perintah dari Damaskus. Sepuluh hari yang sarat hikmah itu adalah sepuluh hari pertama di bulan Muharram, tahun 61 Hijriah. Semua mencapai puncaknya pada hari yang kesepuluh, hari ‘Asyura. Inilah hari yang kita peringati sekarang ini. Selama tujuh hari pertama, tekanan demi tekanan dialamatkan kepada kafilah Imam, tapi keteguhan kafilah ini tak tergoyahkan. Ini bukan masalah pertempuran, karena hanya ada 70 laki-laki untuk berhadapan dengan 4000 serdadu bersenjata lengkap. Kelompok kecil ini dikepung, dihina dan dicemooh. Tapi mereka mendukung satu sama lain begitu kuat sehingga tak dapat dilemahkan. Pada hari kedelapan, pasokan air diputus. Sungai Furat dan aliran-alirannya yang subur terlihat di depan mata, tapi kafilah kecil itu tertahan meminumnya. Kisah keberanian tersaji bagi umat manusia manakala mereka berjuang meraihnya. Tantangan bertanding (duel, sesuai tradisi bangsa Arab-Red) disodorkan, tetapi pasukan musuh tak menyambutnya. Sedangkan kafilah kecil ini sudah siap bahkan untuk syahid hingga perjuangan yang terakhir. Terjadilah pertempuran. Kafilah kecil ini lebih hebat di medan perang. Mereka berhasil mengalahkan lebih banyak orang dibandingkan yang gugur dari mereka. Pada petang hari kesembilan, putra terkecil Imam jatuh sakit. Demam menyelimuti tubuhnya. Ia sekarat kehausan. Kelompok kecil ini berusaha mencarikan air. Tapi musuh menolaknya. Menyerahlah ujar mereka. Para sahabat yang setia dari Imam Husain ini semakin kukuh niat untuk berjuang di samping Imam. Imam justru berkata kepada mereka: “Orang-orang ini menginginkanku. Keluarga dan sahabat-sahabatku boleh kembali.” Tapi seorang pun mau untuk kembali. Mereka berkata mereka akan tetap di samping Imam hingga detik yang terakhir. Dan mereka buktikan itu. Mereka bukan pengecut; mereka adalah patriot yang terlahir dan terdidik sebagai ksatria. Mereka bertempur bak pahlawan, dengan pengabdian dan kesatriaan.

Penderitaan Puncak: Wajah-wajah para Kekasih Tuhan. Pada hari kesepuluh, ‘Asyura, Imam Husain dan kerabatnya yang tersisa dikepung oleh balatentara musuh. Imam berjuang hingga nafas suci yang terakhir. Tubuhnya dicincang. Kepalanya yang suci dipisahkan ketika Imam bersujud. Teriakan gempita kemenangan membahana di atas tubuhnya yang bersimbah darah. Dalam tragedi ini, sejarah mencatat apa yang terjadi dalam hitungan jam demi jam. Imam menderita 45 tusukan, dari hunusan pedang dan lontaran tombak. Dari tubuhnya diangkat 35 anak panah. Tangan kirinya terputus. Sebuah tombak terhunjam di dadanya. Setelah seluruh peristiwa yang menyakitkan itu, kepalanya dipancangkan di atas sebuah tombak. Wajah itu adalah wajah kekasih Tuhan, wajah seorang manusia Ilahi. Tubuh para syuhada yang lain dibariskan dan diinjak-injak oleh pasukan berkuda. Satu-satunya lelaki yang bertahan adalah seorang anak belia. Putra Al-Husain, Ali yang digelari Zayn al-Abidin, hiasan para ahli ibadah. Ali putra Al-Husain tinggal di pengasingan, mengajarkan prinsip-prinsip ruhaniah luhur ayahnya sepanjang sisa hidupnya.

Kepahlawanan Para Perempuan. Di Karbala ada banyak perempuan. Ada Zainab saudari Imam. Ada Sakinah putri bungsu Imam. Ada Shahr-i Banu, istri Imam. Begitu banyak puisi dalam literature Islam yang menceritakan tragedi ini. Bahkan dalam ratapan dan tangisan mereka, para perempuan ini menampakkan kepahlawanannya. Mereka berduka dengan cara yang sangat menyayat hati, manusiawi, dan penuh rasa cinta kasih. Pada saat yang sama mereka juga sadar tentang kemuliaan yan gdiraih dari kehidupan yang diakhiri dengan mahkota kesyahidan. Di antara penyair terbaik yang menggambarkan hal ini adalah seorang penyair Urdu, Anis, yang hidup di Lucknow dan meninggal pada tahun 1874.

Pelajaran dari Tragedi ini. Begitulah, secara singkat, ceritanya. Lalu apa pelajarannya? Tentu saja ada penderitaan lahiriah dalam syahadah, dan seluruh derita serta musibah itu menghentak simpati kita---simpati paling tulus, paling suci, paling mulia yang dapat kita berikan. Tapi ada penderitaan yang lebih berat dari penderitaan lahiriah. Yaitu ketika sesosok jiwa mulia berdiri menghadapi dunia; ketika tujuan suci dihina dan dimaki; ketika kebenaran runtuh. Dan para syuhada adalah orang-orang yang rela mengorbankan segalanya agar umat dijauhkan dari penderitaan yang jauh lebih besar lagi. Kepada mereka berhembus bisikan, “Kebenaran tidak akan pernah mati.” Dan sungguh, yang demikian itu benar adanya. Kebenaran sejati tak pernah hilang. Tapi pertempuran sesungguhnya adalah apakah manusia dapat mempertahankan nilai kebenaran itu dalam dirinya. Yang seperti itu hanya dapat dipelajari dari orang yang mencontohkannya dalam keteladanan, pada waktu hidup dan syahidnya. Pelajarilah keteguhan hati, kesabaran, keberanian, dan hal-hal lainnya dari Kafilah Karbala. Mereka yang mengorbankan tujuan-tujuan sesaat untuk kebenaran yang abadi. Seorang syahid adalah dia yang bersaksi. Dan semua orang menyaksikan kesaksian itu setelahnya. Itulah yang terjadi pada Al-Husain. Semua yang membaca kisahnya akan terhentak oleh perjuangannya. Oleh syahadahnya. Syahadah Al-Husain juga yang meniupkan angin kematian pada kekuasaan di Damaskus dan segala sesuatu yang muncul daripadanya. Bulan Muharram masih memiliki kekuatan untuk mempersatukan berbagai mazhab dan kelompok dalam Islam. Sejarah pada bulan ini bahkan dapat mempersatukan umat dari berbagai agama.

Penjelajah Wilayah Ruhaniah. Demikianlah, menurut saya signifikansi luhur dari Syahadah. Sejarah kemanusiaan menunjukkan bahwa ruh manusia bergerak ke banyak arah, mencerap sumber energi dan kekuatan dari banyak tempat. Tubuh kita, sumber kekuatan fisikal kita, telah berkembang dari tahapan-tahapan sebelumnya, setelah serangkaian perjuangan dan kesulitan. Pikiran kita telah punya para martirnya. Dan para penjelajah seringkali meretas ruang dan tempat dengan semangat para martir itu. Semua penghormatan bagi mereka. Tetapi penghormatan yang paling agung, tetaplah bagi mereka yang telah menembus batas-batas ruhaniah. Mereka yang melawan jumlah yang besar untuk tidak pernah menyerah pada kejahatan. Daripada nilai-nilai ruhaniah itu luntur, mereka relakan diri untuk gugur. Renungkanlah perjuangan Imam Husain, ketika ia berangkat mengingatkan manusia, dari satu kota ke kota lainnya. Para pengintai, pemburu dan pembunuh senantiasa membayanginya di setiap langkahnya. Tapi ia tidak pernah sekali pun berkompromi dengan kejahatan. Kepadanya ditawarkan kehidupan yang mudah, bahkan untuk senantiasa dekat dengan rumah tuhan sekalipun, dengan meninggalkan sahabat-sahabatnya yang membutuhkan. Imam memilih jalan yang penuh bahaya dan berliku, demi memikul amanah dan tugas suci. Dan tidak pernah sekali pun menyerah.

Kisah Imam Husain akan mensucikan perasaan dan emosi kita. Sebaik-baiknya penghormatan yang bisa kita berikan padanya adalah dengan memperkenankan kisah itu untuk mendidik keberanian dan keteguhan kita.

nb: diterjemahkan oleh Miftah F. Rakhmat, sumber www.al-islam.org . Di situs ini juga termaktub tulisan asli A. Yusuf Ali dan rujukan-rujukannya di Perpustakaan London, dan beberapa universitas ternama di Inggris dan Amerika.

user comment
 

latest article

  Belajar Matematika Keadilan Bersama Imam Ali bin Abi Thalib as
  Sayyidina Ali : Tidak Ada yang Pernah Berbuat Buruk Kepadaku !
  EMPATI : JALAN MEMUHAMMADKAN DIRI
  TRIK-TRIK MENDIDIK JIWA
  MENGENAL NAFS (I)
  Perintah Birrul Walida’in dalam Al-Qur’an
  Sayidah Zainab as, Srikandi Keadilan
  DUA LANGKAH IMAM 'ALI
  Fatimah Az-Zahra, Perempuan Teladan Dunia
  Imam Sajjad, Simbol Keagungan Akhlak dan Spiritualitas